Moh Lingga Ketua GPII PD Kota Makassar Sekaligus Wakil Sekretaris DPD KNPI Kota Makassar
DOGMAMEDIA.ID-MAKASSAR Tanggal 27 Oktober Tahun 1928, Ribuan Pemuda berkumpul di Ikada, Batavia (Monas, Jakarta Saat Ini) guna mengikuti Kongres Pemuda Ke II lanjutan daripada Kongres Pertama Pada Tahun 1926.
Bertempat di Kramat Raya Nomor 106, Ribuan Pemuda-Pemudi dengan suara yang menggelegar meneriakkan Ikrar bahwasanya “Bertumpah Darah Satu, Tanah Air Indonesia” Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia” “Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia”.
Peristiwa ini kemudian di kenal dengan peristiwa Sumpah Pemuda, 17 Tahun setelahnya untuk Pertama kali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kemudian di umumkan kepada Dunia yang di awali oleh Penculikan Bung Karno oleh Puluhan Pemuda ke Rengas Dengklok dengan maksud untuk memaksakan Bung Karno dengan dalm waktu yang Sesingkat-singkatnya dan dalam tempo yang secepat-cepatnya untuk Membacakan Teks Proklamasi sebagai pertanda Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam Dua Peristiwa Sejarah tersebut dapat terlihat jelas bagaimana begitu pentingnya peran Pemuda dalam memperebutkan serta memperjuangkan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kurang dari seminggu lagi, Genap sudah 97 tahun peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda berlalu, begitu banyak perubahan zaman dan generasi telah terlampaui namun apakah semangat Sumpah Pemuda itu masih diwariskan pada Dewasa ini ataukah malah sebaliknya bahkan lebih parah lagi peristiwa besar dan bersejarah itu luput terkikis oleh zaman.
Ketua Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Gerakan Pemuda Islam Indonesia Pimpinan Daerah Kota Makassar (GPII PD Kota Makassar) Moh. Lingga saat dimintai pendapat mengungkapkan bahwasanya,
“Tantangan Pemuda Pada Tahun 1928 dengan Tantangan Sekarang Pada Tahun 2025 sangatlah jelas jauh berbeda, bagaimana di tengah-tengah tekanan yang luar biasa dahsyat dari Pemerintahan Kolonial Belanda Pada Saat itu namun tidak dapat mengurangi dan memadamkan api semangat dari Ribuan Pemuda-Pemudi untuk berkumpul menjadi satu dalam berbagai macam perbedaan dan meneriakkan ikrar Sumpah Pemuda yang membuat hampir seluruh tembok bangun yang di huni oleh Pemerintahan Kolonial Belanda Bergetar, Para pejuang dari kawula muda saat itu paham betul bahwa Perbedaan adalah salah satu kelemahan terbesar sehingga perlunya ada persatuan, satu tujuan mencapai cita-cita Kemerdekaan dan pemuda adalah salah perajutnya”
Ketua GPII PD Kota Makassar itupun melanjutkan “Jikalau Pertanyaannya adalah Apakah setelah 97 Tahun pasca peristiwa besar dan bersejarah itu Pemuda-Pemudi kita masih mewariskan Keberanian Sumpah Pemuda , Apakah setelah 97 Tahun Para Pemuda-Pemudi kita masih mewariskan semangat Sumpah Pemuda jawabannya sudah pasti iya terbukti dengan masih adanya Pemuda-Pemudi kita yang masih peduli dan meneriakkan ketimpangan di Jalanan hanya saja yang jadi pembeda adalah pada saat 97 Tahun lalu lawannya jelas Pemerintahan Kolonial Belanda dan Cita-citanya jelas adalah menggapai Kemerdekaan itu yang jadi pembeda antara Semangat dan juga Keberanian Pemuda-Pemudi Pada Tahun 1928 dengan kami saat ini”
“Dulu lawannya jelas Pemerintahan Kolonial Belanda sekarang jangankan melawan dengan eskalasi massa yang cukup besar baru konsolidasi aja udah di tuduh Makar, turun ke Jalan teriakan aspirasi di anggap dintunggangin Asing, Dikit-dikit di tuduh Provokator, Dikit-dikit di tuduh Perusuh, Padahal kita cuman teriakan Aspirasi agar Pemerintahan kita bisa berbenah diri alih-alih melakukan Evaluasi, Pemerintah malah menghadapkan Massa Aksi dengan Militer padahal kalau kita mundur ke belakang kita flashback ke zaman sebelum Kemerdekaan, Militer kita malahan mendukung aksi Pemuda melawan kebijakan Pemerintah Kolonial Belanda yang dianggap menindas sekarang Belandanya Sudah Pergi tapi justru malah Pemerintah kita yang kemudian ini menunjukkan gejala dugaan seperti Belanda”
“Jikalau 28 Oktober 1928 Pemuda-Pemudi menggetarkan seluruh Nusantara dengan teriakkannya mengucapkan Ikrar Sumpah Pemuda maka pada Tanggal 28 Oktober 2025 Mendatang merupakan momentum yang tepat untuk melakukan Rekonsiliasi Pemuda, Merajut ulang simpul-simpul Pemuda yang mulai kendor setelah 97 Tahun Berpuasa menentukan sikap sebagai Poros Tengah dalam persoalan Politik dan mengawal kebijakan-kebijakan yang menjadi ketimpangan di tengah-tengah Masyarakat serta menjadi Epicentrum dalam Kemajuan Bangsa dan Negara, Kami tidak katakan 97 Tahun lalu adalah hal yang mudah namun Hari ini perjuangan kami juga tidak bisa di katakan hal yang mudah karena bisa saja melawan kebijakan Pemerintahan sendiri lebih berat dibanding melawan Pemerintahan Penjajah” Tegas Moh Lingga Ketua GPII PD Kota Makassar yang juga merupakan Wakil Sekretaris DPD KNPI Kota Makassar saat di temui Pada Hari ini Rabu (22/10/25)
