Jeju Air mengalami kecelakaan tragis pada Minggu pagi (29/12) di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan. Pesawat dengan nomor penerbangan 7C2216, yang merupakan Boeing 737-800, mengalami kecelakaan fatal saat mendarat. Dari total 181 orang di dalam pesawat, sebanyak 179 orang dinyatakan tewas.
Kronologi Kecelakaan Pesawat yang terbang dari Bangkok, Thailand, dijadwalkan mendarat di Muan sekitar pukul 09:00 waktu setempat. Ketika mendekati bandara, pengawas lalu lintas udara memberikan peringatan tentang risiko tabrakan burung (bird strike). Pilot sempat melakukan manuver untuk menunda pendaratan dan mencoba mendarat dari arah berlawanan setelah melakukan panggilan Mayday.
Saat pendaratan, pesawat diketahui tidak menggunakan roda pendaratan utama. Pesawat mendarat dengan perut (belly landing), tergelincir keluar landasan, menabrak tembok beton, dan akhirnya terbakar. Ledakan besar terjadi, dan api dengan cepat melahap badan pesawat. Rekaman video menunjukkan kepulan asap tebal di lokasi kejadian.
Penyebab Dugaan Kecelakaan Menurut Kepala Pemadam Kebakaran Muan, Lee Jeong-hyun, tabrakan dengan burung dan cuaca buruk menjadi kemungkinan penyebab kecelakaan. Seorang penumpang sempat mengirim pesan kepada kerabatnya, melaporkan bahwa seekor burung tersangkut di sayap pesawat.
Namun, para ahli masih skeptis bahwa tabrakan burung semata dapat menyebabkan kegagalan fungsi roda pendaratan. Geoffrey Dell, pakar keselamatan penerbangan, menyatakan bahwa tabrakan burung biasanya tidak menyebabkan hilangnya kendali total pesawat. Hingga saat ini, perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan yang ditemukan dalam kondisi rusak sedang dianalisis untuk menentukan penyebab pasti.
Tanggapan dari Pihak Terkait Jeju Air menegaskan bahwa kecelakaan ini bukan akibat masalah perawatan. Pilot pesawat memiliki pengalaman lebih dari 6.800 jam terbang sejak bertugas pada 2019. Maskapai ini juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan berjanji akan bekerja sama penuh dalam investigasi.
Boeing, pabrikan pesawat, turut menyampaikan belasungkawa kepada para keluarga korban. Sementara itu, Choi Sang-mok, penjabat presiden Korea Selatan, telah menetapkan zona bencana khusus di Muan dan mengumumkan masa berkabung nasional selama tujuh hari.
Duka dan Upaya Penanganan Bandara Internasional Muan telah menutup semua penerbangan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Pemerintah dan Palang Merah mendirikan tenda-tenda untuk mendukung keluarga korban yang datang ke bandara. Namun, identifikasi jenazah memakan waktu lama, memicu frustrasi dari beberapa keluarga yang berduka.
Jeju Air, maskapai penerbangan berbiaya rendah yang populer di Korea Selatan, mencatat kecelakaan ini sebagai insiden fatal pertama sejak peluncurannya pada tahun 2005. Tragedi ini menjadi peringatan serius bagi industri penerbangan Korea Selatan, yang selama ini dikenal memiliki catatan keselamatan yang sangat baik.
Masa Berkabung Nasional Pemerintah telah memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh kantor pemerintah selama masa berkabung. Choi Sang-mok menyampaikan belasungkawa mendalam dan berjanji akan melakukan segala upaya untuk mendukung pemulihan bagi yang terluka dan memastikan insiden serupa tidak terulang di masa depan.
Tragedi ini menjadi salah satu bencana penerbangan paling mematikan dalam sejarah Korea Selatan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat dunia.
